Only 4 Human ^^

met datang di blogku..
payo diliat-liat doeloe.. ^^

Sabtu, 22 Januari 2011

The Memory Of Trees

Pohon beringin di seberang rumahku..

Meranggas
Dahannya membusuk dimakan waktu
Rantingnya pun tergilas zaman

Di sana tersimpan harta karunku
kotak pandoraku
selalu kuingat di masa lampau
kemegahan mahkota hijaunya
elok benar tarian daunnya


ia menyimpan mimpiku
akarnya memegang rinduku
batangnya menopang tekadku
daunnya menarikan impianku

Lihat,
sekarang ia sirna
membawa kabur hidupku
dan hidup anak-anakku kelak..

Silent Love Song

           Hari ini, kulepaskan kau dari hatiku. Begitu dalam ia terpatri dalam hatiku, namun perlahan semua ikatan itu lenyap, bahkan semua sisa harapan padanya sudah terlepas, menguap entah kemana..
                                                             ***
          Selalu tercium aroma cokelat karamel saat mengingatnya. Mungkin karena pengaruh suasana lembut Februari waktu itu, saat aku mengenalnya, seorang yang baru dalam hidupku. Hanya berawal dari sebuah kejadian kecil, aku menangkap sinar yang indah dari dalam bola matanya. Tak ada percakapan hari itu dan juga beberapa minggu sesudahnya. Hanya senyum kecil yang kuanggap basa-basi. Tiap pekan kami bertemu, bukan untuk saling bertemu. Tempat itu yang mempertemukan kami dan teman-temanku yang menghubungkan pertemuan itu. Hanya itu. Lalu namanya muncul di daftar permintaan pertemanan situs jejaring sosialku. Sebenarnya sudah lama aku tahu keberadaannya di situs itu, namun entah kenapa aku tak mau menjadi orang yang memulai. Aku membiarkan perasaanku bermain dan jadilah demikian.
            Ia yang pertama menyapaku di situs itu. Obrolan demi obrolan mengalir, seakan-akan kami adalah sahabat lama yang bertemu kembali. Ia ingat hari kelulusanku, ia tahu warna kesukaanku, lalu sepanjang hari aku bisa tersenyum. Aku tak tahu, atau lebih tepatnya, tak mau mengetahui rasa apa itu. Lagi-lagi kubiarkan perasaanku bermain-main sejenak.
            Aku memang orang yang tak pandai bicara. Namun sangatlah aneh kurasa ketika aku tak bisa berkata-kata saat bertemu dengannya. Ia pun tidak. Kami berdua seperti orang bisu yang tak bisa berbahasa isyarat. Dua sahabat bisu itu pun bertemu kembali di dunia maya dan bercengkrama layaknya tak bersua sekian lama. Ia selalu tahu status terbaruku, demikian sebaliknya. Ia selalu menyemangatiku, membuatku tertawa. Akalku mulai mengambil tempat mendahului perasaanku yang munafik. Ia berkata, apa mungkin ini cinta? Perasaanku yang munafik menggeleng. Akalku menyuruhku menatap foto orang itu. Tidak, dia bukan tipe kesukaanku. Lagi-lagi perasaanku yang munafik menggeleng.
            Semakin mengenalnya aku semakin tahu kepribadiannya. Ia begitu berbeda denganku. Ia begitu berkharisma. Ia memiliki banyak penggemar wanita yang setia mengikutinya di situs itu. Tak apa, karena menurut pengintaianku, terlihat perbedaan perhatiannya padaku lebih besar daripada kepada para penggemarnya itu. Tunggu dulu, ‘penggemar’? Aku bukan salah satunya, bentak perasaanku yang munafik itu. Akalku setuju. Terlalu gegabah mengambil keputusan. Perasaan seseorang tak bisa diukur hanya dari sebuah halaman profil situs jejaring sosial. Aku manut saja. Tapi hati kecilku –bagian lain lagi dari diriku- bisa melihatnya. Aku merasakannya, mata orang itu, matanya saat menatapku, gestur tubuhnya saat di dekatku. Selalu terasa aura lembut saat dia di dekatku, ia selalu bisa membuatku nyaman. Lagi-lagi akalku berkata, ‘terlalu berbesar hati!’
            Aku mulai merasa nyaman dengan kedekatan kami walau banyak yang mempertanyakan kedekatanku dengannya yang samar di dunia maya, sampai hal itu terjadi. Aku harus pergi, meninggalkan tempat ternyamanku di sini.  Sejak itu ia perlahan menghilang dari duniaku. Ia mengacuhkanku. Hanya ada beberapa sapaan basa-basi saat berjumpa dengan sosok aslinya. Aku megharapkan responnya, tapi nihil. Sekarang egoku yang bicara. Terlalu tinggi untuk menjatuhkan harga diri jika bertanya perihal sikapnya padaku. Itu tidak mungkin!
            Sampai beberapa saat sebelum aku pergi, ia masih bergeming. Hanya, aku menangkap matanya, saat tak sengaja kutahu ia mencuri pandang padaku. Masih sama seperti dulu, ada cahaya di balik korneanya untukku. Ingin kukerahkan segenap keberanianku menyapanya, namun nihil. Menggubrisku pun tidak. Ia terlihat lebih tertarik menyapa teman-temanku yang lain, kecuali aku. Kenapa? Aku marah. Aku kecewa. Aku cemburu. Aku pun pergi, meninggakan hatiku bersamanya. Ya, kuakui itu. Akhirnya hatiku yang munafik tak bisa mengelak ketika butir-butir air mata itu jatuh saat memikirkannya.
            Kenapa ia tak mau berbicara denganku? Tak mau menyapaku? Aku bingung, tapi aku rindu, rindu padanya. Akalku mulai menganalisa, benarkah selama ini aku salah menilai sikapnya? Tapi, apa maksud di balik tatapannya? Apa hatiku kecilku salah? Aku tak mengerti. Mungkin akalku benar, aku terlalu berbesar hati..
            Malam ini aku sendiri ditelan kepekatan malam, melarutkan semua kegundahan dalam alunan lagu-lagu melankolis. Menyedihkan. Aku baru merasakannya, cinta dalam diam, cinta yang lembut. Namun tak seperti yang kuharapkan, cinta itu berasa asam. Kalau bisa tak mau kusebut ‘cinta’. Lupakan saja, menyerah saja. Malam ini, kulepaskan kau dari hatiku. Kulihat namanya di layar memudar, lalu menghilang, berganti air mataku.
                                                            ***

writted by Satsuki Borunababan
*Menang masuk 50 besar dan akan dbukukan! ^^

Dear Mom

           Bandul itu bergoyang empat kali, tak berselang lama terdengar dentangan pelan empat kali, menandakan pukul empat subuh. Sesekali terdengar derak ranjang yang didorong kencang melewati koridor bersamaan dengan derap langkah cepat beberapa kaki. Terdengar suara wanita menangis pilu sambil memohon-mohon pertolongan pada dokter dan suster. Suara itu sepertinya pernah kudengar beberapa saat yang lalu. Ya, suara yang juga pernah keluar dari mulutku beberapa jam yang lalu.
            Mendadak sunyi senyap setelah itu. Lalu terdengar kicauan burung walet yang banyak bersarang di atap rumah sakit. Bunyi alam khas rumah sakit umum kota ini. Bunyi yang kukenal sejak beberapa tahun lalu. Dari dulu aku merasa kicauan walet itu seperti bunyi kematian. Pilu dan menyayat-nyayat. Kutatap wajah seseorang di atas ranjang kecil di sampingku. Kelopak matanya tertutup, dan tak akan terbuka lagi. Mukanya pucat pasi, bibirnya membiru. Sambil menahan rasa sakit yang meregang di kepala, tetes-tetes air mata kembali tumpah dari pelupuk mataku. Lagi-lagi tak ada yang dapat kuperbuat, hanya terus menangis dan merintih pilu..
                                                                                                     *
            Rumah kecil itu mendadak ramai, sebagian besar orang berpakaian hitam. Beberapa karangan bunga berdiri kokoh di samping deretan anyelir kesayangan mama. Aku duduk bersimpuh di ruang keluarga, bersama papa dan kakak perempuanku –juga mengenakan pakaian hitam-. Sedari tadi terdengar ratap tangis yang memilukan. Silih berganti mereka keluar masuk rumahku, entah sudah berapa ratus kali aku berjabat tangan dengan orang-orang yang berkata kepadaku, “Tabah ya..” Aku jadi benci kata-kata itu!
            Tiba-tiba seorang wanita tua masuk, dipapah seorang wanita setengah baya berambut keriting, mirip mama, dan seorang lelaki berkumis. Ia berteriak-teriak histeris, memanggil-manggil nama yang kukenal sebagai nama mama. ItuOpung dari kampung, baru tiba dari bandara bersama Naguda(1) dan Tulangku(2). Setelah sepuluh tahun tak bertemu, guratan-guratan di wajahnya makin bertambah. Ia berontak dari pegangan Naguda dan Tulangku, menghampiri peti kayu yang teronggok di sampingku. Air matanya mengalir deras berjatuhan di pipi mama yang membiru. Dibelai-belainya rambut coklat tipis mama sambil terus berteriak histeris.
            “Kenapa kau pergi duluan, Boruku(3)..??  Biar aku saja yang gantikanmu..!!” kalimat itu terus-menerus diulangnya. Tubuh kurusnya terlihat semakin kecil. Papa dan kakakku yang menenangkannya, juga semua yang hadir malah ikut menagis pilu. Tapi aku diam, membisu. Bola mataku memandang tajam isi peti itu, namun sesungguhnya tatapanku kosong. Seketika rasanya aku diselimuti hampa. Semua orang di ruangan ini terhenti gerak dan suaranya. Lalu orang dalam peti itu, mama, bangkit, ia menatapku lembut sambil membelai rambutku. Tapi itu hanya khayalanku…
                                                                                        *
            Ah, andai waktu bisa diulang, aku ingin memperbaiki semua kesalahanku. Dulu aku dan mama sering bertengkar. Selalu saja ada hal yang membuatku berdebat dengan mama. Padahal aku tahu ada kasih sayang yang begitu besar yang ia berikan untukku. Tapi seringnya aku aku egois dan membuat hatinya terluka. Ya, aku dulu hanyalah segumpal duri yang keras hati. Sampai aku mengetahui penyakit yang ia pendam selama ini. Saat itu aku bertekad membuatnya bahagia, lebih dari siapapun. Walau sudah bertahun-tahun keluar masuk rumah sakit aku takkan pernah mengeluh mendampingi beliau. Namun ternyata kesempatan itu tak berlangsung lama. Begitu cepat mama pergi meninggalkanku. Yah, itulah sebuah penyesalan..
            Telepon genggamku bergetar. Sebuah sms masuk, dari kakak.
            ‘Alice, u dmana? Cpt plg, mkn mlm.’
Mungkin kakak khawatir padaku. Sedari tadi aku berputar-putar naik bis tanpa tujuan. Aku hanya ingin duduk, memandang hampa jalanan kota, membawa pergi perasaan galauku. Sejak mama pergi aku acuh tak acuh pada orang-orang di sekelilingku. Entahlah, aku seperti tak bisa menangkap keberadaan mereka. Entah kenapa kakak bisa tertawa dan papa kembali beraktivitas seperti biasa, seperti memang tak pernah ada mama sebelumnya. Hal itu membuatku marah. Aku kesal! Aku kecewa! Padahal mereka yang dulu menangis lebih histeris dari padaku. Apakah mama bisa semudah itu dilupakan? Aku sampai takut akan melupakan bagaimana suara mama, bagaimana senyumnya, sorot matanya..
            Aku sampai di rumah sesaat sebelum rintik hujan turun. Kubuka pintu, tak ada orang. Mungkin papa dan kakak pergi? Tapi kucium aroma ikan santan kesukaanku dari arah dapur. Dulu mama suka memasaknya untukku, walau aku selalu mengeluh terlalu asin atau terlalu hambar. Dari dapur terdengar suara obrolan. Kuintip, ada papa dan kakak sedang sibuk memotong wortel. Ngapain mereka? Tumben-tumbennya papa pulang cepat, sampai memasak segala. Kudengar kakakku berkata,
            “Pa, sepertinya Alice terpukul sekali dengan kepergian mama. Aku sedih melihatnya.” katanya sambil mengaduk-aduk wajan berisi kuah santan itu. Aku tertegun. Benarkah aku terlihat begitu terpuruk?
            Papa hanya diam sambil terus memotong wortel. Lucu sekali melihatnya di dapur. Matanya menerawang ke dalam wajan, menyiratkan kepedihan.
            “Tapi kau bisa menjadi penyemangatnya, kan? Papa percaya kita semua pasti bisa melewati semua ini.” katanya. Sudut bibirnya bergetar.
            Aku rindu mama, Pa…” Tiba-tiba kakakku menitikkan air matanya dan tertunduk. Kulihat papa dengan tangannya yang semakin berkerut menepuk-nepuk punggung kakakku. Sebenarnya, dalam penglihatanku, punggung papa pun terlihat begitu kecil, seperti berkerut, menahan kepedihan.
            “Ya, Pa. Aku harus tegar.. Aku kakaknya, tak boleh menagis..” isaknya tersedu-sedan.
            Aku tak kuasa menahan air mataku. Aku tak pernah memikirkan bagaimana perasaan kakak dan papa. Padahal mereka juga sedih dan tetap berusaha berjuang. Sedangkan aku hanya memikirkan diri sendiri, sungguh memalukan..
Maafkan aku, Papa, Kakak..
                                                                                       *
            Bukan waktu yang menyembuhkan. Bukan.. Luka ini takkan sembuh hanya karena waktu yang bergulir. Kalau saja aku tak punya pengharapan dan iman, pasti dari dulu aku sudah mau menyusul mama. Terkadang, di saat sepi menyeruak dalam kepekatan malam, kesedihan dan kerinduan itu kerap datang dan bersatu, membentuk suatu senyawa yang disebut kehampaan..
            Aku masih memimpikan mama. Terkadang ia begitu nyata sampai aku lupa pada fakta. Memang keberadaan seseorang itu baru terasa penting ketika kita sudah kehilangannya. Kalau aku bangun di pagi hari, seolah masih terdengar suaranya membangunkanku seperti yang biasa dilakukannya dulu.  Menjelang sore, aku seperti bisa mencium wangi kue panggangannya di dapur. Kalau sudah begitu, air mata yang bicara. Namun aku teringat kala kakak dan papa menangis dalam tawanya. Pemandangan itu terpatri dalam hatiku, bahkan sampai tahun-tahun setelahnya, menjadi penyokong bagiku..
                                                                                     ***

(1) tante
(2) paman
(3) anak perempuani

Minggu, 14 November 2010

Filosofi Sel

Satsuki Borunababan
| 23 October 2010 | at Kompasiana
Pada mata kuliah fisiologi manusia kemarin, seorang dosenku bercerita
tentang fisiologi sel manusia. Sebenarnya aku tak terlalu menikmati 
mata kuliah ini karena sebenarnya mata kuliah ini telah kuambil saat 
D3 dan terpaksa harus mengulang kembali di jalur lanjutan S1 karena 
tak termasuk dalam mata kuliah yang disetarakan. Mulanya aku menganggap 
betapa akan membosankannya mengulang kembali 3 sks ini. Namun asumsi 
itu segera sirna ketika beliau mulai mengajar dengan caranya yang menarik 
dan mendetil. Aku suka caranya menjelaskan sekelumit tahapan-tahapan fisiologi
 yang rumit itu dengan lugas dan jelas. Rasanya aku akan bisa menyukainya, pikirku.
Saat itu beliau menjelaskan menjelaskan tentang mekanisme transportasi 
zat-zat keluar masuk sel dan mekanisme komunikasi antar sel. Ada satu hal 
yang menarik yaitu ada kalanya sebuah sel akan mengeluarkan zat-zat 
tertentu yang diidentifikasi sebagai ’signal’ oleh sel lain sebagai ’signal’ bahaya. 
Zat itu akan dikeluarkan jika sebuah sel terinfeksi oleh bakteri/virus tertentu 
sehingga akan membahayakan sel-sel lain di sekitarnya. Di sinilah beliau 
menjeaskan sebuah karakter sel yang belum tentu dimiliki oleh ‘Si Pemilik 
Sel’, yaitu ‘rela berkorban’. Arti dari signal ini adalah agar sel lain di dekatnya
 memakan sel terinfeksi tersebut untuk mencegah penularan lebih lanjut. Dengan 
demikian sel terinfeksi tersebut dapat melindungi jaringan di sekitarnya, 
melindungi organnya, melindungi sistem organnya, melindungi manusia 
’si pemilik’ tersebut dan melindungi manusia lain dari penularan.
Mungkin ’sebuah’ sel itu dianggap tak berarti, bisa dibilang masih banyak 
sel lain yang sama dengannya. Namun sesungguhnya tiap sel mempunyai
 peranan penting dalam menjaga homeostatis tubuh kita. Tak ada yang 
tak berarti dan sel tersebut pada waktu itu telah memerankan peranan 
penting yaitu sebagai ‘korban’ segaligus ‘penyelamat’ suatu sistem raksasa 
yang dilakoninya.

Pertanyaannya, apakah ’si pemilik’ sel tersebut dapat berbuat seperti ’sel’nya 
sendiri? Tak perlu sampai harus mati demi orang lain. Hanya sebuah 
pengorbanan  kecil demi suatu sistem yang besar, misalnya demi keluarga,
 masyarakat sekitar, institusi, bahkan demi bangsa dan negara dan 
kesejahteraan umat manusia.  Memang terkadang dan seringnya tak akan
 ada penghargaan berarti bagi jerih lelah itu. namun yang sering terjadi malah
 ’sel’ memakan ’sel’ yang lain dengan keji. Sesama keluarga saling menjahati, 
sesama warga masyarakat tak ada belas kasih, bahkan merugikan bangsa dan negara.

Cobalah belajar dari apa yang ada di dalam tubuh kita. Sedangkan unit kehidupan
 terkecil dalam tubuh kita sendiri dapat sebijaksana itu, ‘then oh why can’t I’?