Only 4 Human ^^

met datang di blogku..
payo diliat-liat doeloe.. ^^

Minggu, 14 November 2010

Filosofi Sel

Satsuki Borunababan
| 23 October 2010 | at Kompasiana
Pada mata kuliah fisiologi manusia kemarin, seorang dosenku bercerita
tentang fisiologi sel manusia. Sebenarnya aku tak terlalu menikmati 
mata kuliah ini karena sebenarnya mata kuliah ini telah kuambil saat 
D3 dan terpaksa harus mengulang kembali di jalur lanjutan S1 karena 
tak termasuk dalam mata kuliah yang disetarakan. Mulanya aku menganggap 
betapa akan membosankannya mengulang kembali 3 sks ini. Namun asumsi 
itu segera sirna ketika beliau mulai mengajar dengan caranya yang menarik 
dan mendetil. Aku suka caranya menjelaskan sekelumit tahapan-tahapan fisiologi
 yang rumit itu dengan lugas dan jelas. Rasanya aku akan bisa menyukainya, pikirku.
Saat itu beliau menjelaskan menjelaskan tentang mekanisme transportasi 
zat-zat keluar masuk sel dan mekanisme komunikasi antar sel. Ada satu hal 
yang menarik yaitu ada kalanya sebuah sel akan mengeluarkan zat-zat 
tertentu yang diidentifikasi sebagai ’signal’ oleh sel lain sebagai ’signal’ bahaya. 
Zat itu akan dikeluarkan jika sebuah sel terinfeksi oleh bakteri/virus tertentu 
sehingga akan membahayakan sel-sel lain di sekitarnya. Di sinilah beliau 
menjeaskan sebuah karakter sel yang belum tentu dimiliki oleh ‘Si Pemilik 
Sel’, yaitu ‘rela berkorban’. Arti dari signal ini adalah agar sel lain di dekatnya
 memakan sel terinfeksi tersebut untuk mencegah penularan lebih lanjut. Dengan 
demikian sel terinfeksi tersebut dapat melindungi jaringan di sekitarnya, 
melindungi organnya, melindungi sistem organnya, melindungi manusia 
’si pemilik’ tersebut dan melindungi manusia lain dari penularan.
Mungkin ’sebuah’ sel itu dianggap tak berarti, bisa dibilang masih banyak 
sel lain yang sama dengannya. Namun sesungguhnya tiap sel mempunyai
 peranan penting dalam menjaga homeostatis tubuh kita. Tak ada yang 
tak berarti dan sel tersebut pada waktu itu telah memerankan peranan 
penting yaitu sebagai ‘korban’ segaligus ‘penyelamat’ suatu sistem raksasa 
yang dilakoninya.

Pertanyaannya, apakah ’si pemilik’ sel tersebut dapat berbuat seperti ’sel’nya 
sendiri? Tak perlu sampai harus mati demi orang lain. Hanya sebuah 
pengorbanan  kecil demi suatu sistem yang besar, misalnya demi keluarga,
 masyarakat sekitar, institusi, bahkan demi bangsa dan negara dan 
kesejahteraan umat manusia.  Memang terkadang dan seringnya tak akan
 ada penghargaan berarti bagi jerih lelah itu. namun yang sering terjadi malah
 ’sel’ memakan ’sel’ yang lain dengan keji. Sesama keluarga saling menjahati, 
sesama warga masyarakat tak ada belas kasih, bahkan merugikan bangsa dan negara.

Cobalah belajar dari apa yang ada di dalam tubuh kita. Sedangkan unit kehidupan
 terkecil dalam tubuh kita sendiri dapat sebijaksana itu, ‘then oh why can’t I’?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar