Only 4 Human ^^

met datang di blogku..
payo diliat-liat doeloe.. ^^

Sabtu, 22 Januari 2011

Dear Mom

           Bandul itu bergoyang empat kali, tak berselang lama terdengar dentangan pelan empat kali, menandakan pukul empat subuh. Sesekali terdengar derak ranjang yang didorong kencang melewati koridor bersamaan dengan derap langkah cepat beberapa kaki. Terdengar suara wanita menangis pilu sambil memohon-mohon pertolongan pada dokter dan suster. Suara itu sepertinya pernah kudengar beberapa saat yang lalu. Ya, suara yang juga pernah keluar dari mulutku beberapa jam yang lalu.
            Mendadak sunyi senyap setelah itu. Lalu terdengar kicauan burung walet yang banyak bersarang di atap rumah sakit. Bunyi alam khas rumah sakit umum kota ini. Bunyi yang kukenal sejak beberapa tahun lalu. Dari dulu aku merasa kicauan walet itu seperti bunyi kematian. Pilu dan menyayat-nyayat. Kutatap wajah seseorang di atas ranjang kecil di sampingku. Kelopak matanya tertutup, dan tak akan terbuka lagi. Mukanya pucat pasi, bibirnya membiru. Sambil menahan rasa sakit yang meregang di kepala, tetes-tetes air mata kembali tumpah dari pelupuk mataku. Lagi-lagi tak ada yang dapat kuperbuat, hanya terus menangis dan merintih pilu..
                                                                                                     *
            Rumah kecil itu mendadak ramai, sebagian besar orang berpakaian hitam. Beberapa karangan bunga berdiri kokoh di samping deretan anyelir kesayangan mama. Aku duduk bersimpuh di ruang keluarga, bersama papa dan kakak perempuanku –juga mengenakan pakaian hitam-. Sedari tadi terdengar ratap tangis yang memilukan. Silih berganti mereka keluar masuk rumahku, entah sudah berapa ratus kali aku berjabat tangan dengan orang-orang yang berkata kepadaku, “Tabah ya..” Aku jadi benci kata-kata itu!
            Tiba-tiba seorang wanita tua masuk, dipapah seorang wanita setengah baya berambut keriting, mirip mama, dan seorang lelaki berkumis. Ia berteriak-teriak histeris, memanggil-manggil nama yang kukenal sebagai nama mama. ItuOpung dari kampung, baru tiba dari bandara bersama Naguda(1) dan Tulangku(2). Setelah sepuluh tahun tak bertemu, guratan-guratan di wajahnya makin bertambah. Ia berontak dari pegangan Naguda dan Tulangku, menghampiri peti kayu yang teronggok di sampingku. Air matanya mengalir deras berjatuhan di pipi mama yang membiru. Dibelai-belainya rambut coklat tipis mama sambil terus berteriak histeris.
            “Kenapa kau pergi duluan, Boruku(3)..??  Biar aku saja yang gantikanmu..!!” kalimat itu terus-menerus diulangnya. Tubuh kurusnya terlihat semakin kecil. Papa dan kakakku yang menenangkannya, juga semua yang hadir malah ikut menagis pilu. Tapi aku diam, membisu. Bola mataku memandang tajam isi peti itu, namun sesungguhnya tatapanku kosong. Seketika rasanya aku diselimuti hampa. Semua orang di ruangan ini terhenti gerak dan suaranya. Lalu orang dalam peti itu, mama, bangkit, ia menatapku lembut sambil membelai rambutku. Tapi itu hanya khayalanku…
                                                                                        *
            Ah, andai waktu bisa diulang, aku ingin memperbaiki semua kesalahanku. Dulu aku dan mama sering bertengkar. Selalu saja ada hal yang membuatku berdebat dengan mama. Padahal aku tahu ada kasih sayang yang begitu besar yang ia berikan untukku. Tapi seringnya aku aku egois dan membuat hatinya terluka. Ya, aku dulu hanyalah segumpal duri yang keras hati. Sampai aku mengetahui penyakit yang ia pendam selama ini. Saat itu aku bertekad membuatnya bahagia, lebih dari siapapun. Walau sudah bertahun-tahun keluar masuk rumah sakit aku takkan pernah mengeluh mendampingi beliau. Namun ternyata kesempatan itu tak berlangsung lama. Begitu cepat mama pergi meninggalkanku. Yah, itulah sebuah penyesalan..
            Telepon genggamku bergetar. Sebuah sms masuk, dari kakak.
            ‘Alice, u dmana? Cpt plg, mkn mlm.’
Mungkin kakak khawatir padaku. Sedari tadi aku berputar-putar naik bis tanpa tujuan. Aku hanya ingin duduk, memandang hampa jalanan kota, membawa pergi perasaan galauku. Sejak mama pergi aku acuh tak acuh pada orang-orang di sekelilingku. Entahlah, aku seperti tak bisa menangkap keberadaan mereka. Entah kenapa kakak bisa tertawa dan papa kembali beraktivitas seperti biasa, seperti memang tak pernah ada mama sebelumnya. Hal itu membuatku marah. Aku kesal! Aku kecewa! Padahal mereka yang dulu menangis lebih histeris dari padaku. Apakah mama bisa semudah itu dilupakan? Aku sampai takut akan melupakan bagaimana suara mama, bagaimana senyumnya, sorot matanya..
            Aku sampai di rumah sesaat sebelum rintik hujan turun. Kubuka pintu, tak ada orang. Mungkin papa dan kakak pergi? Tapi kucium aroma ikan santan kesukaanku dari arah dapur. Dulu mama suka memasaknya untukku, walau aku selalu mengeluh terlalu asin atau terlalu hambar. Dari dapur terdengar suara obrolan. Kuintip, ada papa dan kakak sedang sibuk memotong wortel. Ngapain mereka? Tumben-tumbennya papa pulang cepat, sampai memasak segala. Kudengar kakakku berkata,
            “Pa, sepertinya Alice terpukul sekali dengan kepergian mama. Aku sedih melihatnya.” katanya sambil mengaduk-aduk wajan berisi kuah santan itu. Aku tertegun. Benarkah aku terlihat begitu terpuruk?
            Papa hanya diam sambil terus memotong wortel. Lucu sekali melihatnya di dapur. Matanya menerawang ke dalam wajan, menyiratkan kepedihan.
            “Tapi kau bisa menjadi penyemangatnya, kan? Papa percaya kita semua pasti bisa melewati semua ini.” katanya. Sudut bibirnya bergetar.
            Aku rindu mama, Pa…” Tiba-tiba kakakku menitikkan air matanya dan tertunduk. Kulihat papa dengan tangannya yang semakin berkerut menepuk-nepuk punggung kakakku. Sebenarnya, dalam penglihatanku, punggung papa pun terlihat begitu kecil, seperti berkerut, menahan kepedihan.
            “Ya, Pa. Aku harus tegar.. Aku kakaknya, tak boleh menagis..” isaknya tersedu-sedan.
            Aku tak kuasa menahan air mataku. Aku tak pernah memikirkan bagaimana perasaan kakak dan papa. Padahal mereka juga sedih dan tetap berusaha berjuang. Sedangkan aku hanya memikirkan diri sendiri, sungguh memalukan..
Maafkan aku, Papa, Kakak..
                                                                                       *
            Bukan waktu yang menyembuhkan. Bukan.. Luka ini takkan sembuh hanya karena waktu yang bergulir. Kalau saja aku tak punya pengharapan dan iman, pasti dari dulu aku sudah mau menyusul mama. Terkadang, di saat sepi menyeruak dalam kepekatan malam, kesedihan dan kerinduan itu kerap datang dan bersatu, membentuk suatu senyawa yang disebut kehampaan..
            Aku masih memimpikan mama. Terkadang ia begitu nyata sampai aku lupa pada fakta. Memang keberadaan seseorang itu baru terasa penting ketika kita sudah kehilangannya. Kalau aku bangun di pagi hari, seolah masih terdengar suaranya membangunkanku seperti yang biasa dilakukannya dulu.  Menjelang sore, aku seperti bisa mencium wangi kue panggangannya di dapur. Kalau sudah begitu, air mata yang bicara. Namun aku teringat kala kakak dan papa menangis dalam tawanya. Pemandangan itu terpatri dalam hatiku, bahkan sampai tahun-tahun setelahnya, menjadi penyokong bagiku..
                                                                                     ***

(1) tante
(2) paman
(3) anak perempuani

Tidak ada komentar:

Posting Komentar