Pada mata kuliah fisiologi manusia kemarin, seorang dosenku bercerita
tentang fisiologi sel manusia. Sebenarnya aku tak terlalu menikmati
mata kuliah ini karena sebenarnya mata kuliah ini telah kuambil saat
D3 dan terpaksa harus mengulang kembali di jalur lanjutan S1 karena
tak termasuk dalam mata kuliah yang disetarakan. Mulanya aku menganggap
betapa akan membosankannya mengulang kembali 3 sks ini. Namun asumsi
itu segera sirna ketika beliau mulai mengajar dengan caranya yang menarik
dan mendetil. Aku suka caranya menjelaskan sekelumit tahapan-tahapan fisiologi
yang rumit itu dengan lugas dan jelas. Rasanya aku akan bisa menyukainya, pikirku.
Saat itu beliau menjelaskan menjelaskan tentang mekanisme transportasi
zat-zat keluar masuk sel dan mekanisme komunikasi antar sel. Ada satu hal
yang menarik yaitu ada kalanya sebuah sel akan mengeluarkan zat-zat
tertentu yang diidentifikasi sebagai ’signal’ oleh sel lain sebagai ’signal’ bahaya.
Zat itu akan dikeluarkan jika sebuah sel terinfeksi oleh bakteri/virus tertentu
sehingga akan membahayakan sel-sel lain di sekitarnya. Di sinilah beliau
menjeaskan sebuah karakter sel yang belum tentu dimiliki oleh ‘Si Pemilik
Sel’, yaitu ‘rela berkorban’. Arti dari signal ini adalah agar sel lain di dekatnya
memakan sel terinfeksi tersebut untuk mencegah penularan lebih lanjut. Dengan
demikian sel terinfeksi tersebut dapat melindungi jaringan di sekitarnya,
melindungi organnya, melindungi sistem organnya, melindungi manusia
’si pemilik’ tersebut dan melindungi manusia lain dari penularan.
Mungkin ’sebuah’ sel itu dianggap tak berarti, bisa dibilang masih banyak
sel lain yang sama dengannya. Namun sesungguhnya tiap sel mempunyai
peranan penting dalam menjaga homeostatis tubuh kita. Tak ada yang
tak berarti dan sel tersebut pada waktu itu telah memerankan peranan
penting yaitu sebagai ‘korban’ segaligus ‘penyelamat’ suatu sistem raksasa
yang dilakoninya.
Pertanyaannya, apakah ’si pemilik’ sel tersebut dapat berbuat seperti ’sel’nya
sendiri? Tak perlu sampai harus mati demi orang lain. Hanya sebuah
pengorbanan kecil demi suatu sistem yang besar, misalnya demi keluarga,
masyarakat sekitar, institusi, bahkan demi bangsa dan negara dan
kesejahteraan umat manusia. Memang terkadang dan seringnya tak akan
ada penghargaan berarti bagi jerih lelah itu. namun yang sering terjadi malah
’sel’ memakan ’sel’ yang lain dengan keji. Sesama keluarga saling menjahati,
sesama warga masyarakat tak ada belas kasih, bahkan merugikan bangsa dan negara.
Cobalah belajar dari apa yang ada di dalam tubuh kita. Sedangkan unit kehidupan
terkecil dalam tubuh kita sendiri dapat sebijaksana itu, ‘then oh why can’t I’?
